SASAKALA GUNUNG GUNTUR

SASAKALA GUNUNG GUNTUR

Dahulu kala, di suku gunung Kutu (yang kelak

namanya berubah menjadi gunung Guntur) terdapat

sebuah kerajaan bernama Timbanganten. Ibukotanya

bernama Korobokan, tidak jauh dari suku gunung Kutu.

Seluruh penduduknya bekerja sebagai petani dan

peladang. Adapun rajanya bernama Sunan Rangga

Lawe. Ia seorang raja yang adil dan bijak, sehingga

sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya.

Sunan Rangga Lawe mempunyai kakak seorang

perempuan bernama Maharaja Inten Dewata. Namun

berbeda dengan pribadi Sunan Rangga Lawe yang

sinatria, kakaknya lebih memilih menjadi pertapa dan

masyarakat biasa. Ia tidak mau tinggal di dalam istana.

Ia lebih senang berkelana ke tiap pelosok kerajaan,

ditemani oleh lelaki yang sudah berumur tua bernama

Batara Rambut Putih.

Suatu ketika, kerajaan Timbanganten mengalami

pailit akibat musim kemarau panjang. Penduduk

kekurangan air bersih dan makanan. Hasil pertanian

dan ladang tidak dapat dipanen, karena kekeringan.

Maka untuk menyelesaikan masalah tersebut, Sunan

Rangga Lawe pun berinisiatif untuk membuat situ

(danau). Dipanggillah seluruh patih dan mahamantri

kerajaan, lalu diperintah agar segera mencari tempat

yang cocok untuk membuat situ. Tempatnya harus

strategis, agar dapat mengairi seluruh wilayah kerajaan.

Setelah 40 hari 40 malam, akhirnya para patih

dan mahamantri yang ditugaskan mencari daerah untuk

membuat situ pun menghadap Sunan Rangga Lawe.

“Kanjeng Sunan, kami telah berhasil

menemukan tempat yang strategis untuk dibuat situ.”

“Di mana tempatna, Paman Patih?”

“Di lembah gunung Kutu, Kanjeng.”

“Siapa yang memiliki tempat tersebut, Paman?”

“Pemiliknya Maharaja Inten Dewata, saudara

Kanjeng sendiri.”

“Oh, gampang kalau pemiliknya beliau.

Sekarang, Paman segera menghadap pada kakakku,

ceritakan apa kehendakku.”

“Baik, Kanjeng, akan saya laksanakan.”

Keesokan harinya, Paman Patih pun segera

menemui Maharaja Inten Dewata di rumahnya, di

lembah gunung Kutu. Sesampainya di sana, ia

langsung menghadap Maharaja Inten Dewata.

“Ada apa kalian menemuiku?”

“Ampun Gusti, saya mendapat tugas dari

Kanjeng Sunan untuk menyampaikan permintaannya.”

“Memang apa permintaan adikku itu?”

“Ia bermaksud meminta daerah ini untuk dibuat

situ. Katanya akan bermanfaat bagi sistem pengairan di

kerajaan Timbanganten.”

Sesaat Maharaja Inten Déwata terdiam. Sesaat

kemudian, ia pun memberikan keputusan.

“Sampaikan pada Sunan, permintaannya tidak

akan aku kabulkan. Di daerah ini aku mulai bisa

menikmati hidup, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan

istana.”

Setelah mendengar jawaban tersebut, Paman

Patih pun segera bergegas untuk menemui Sunan di

istana. Sesampainya di istana, ia pun langsung

menghadap ke Sunan Rangga Lawe.

“Bagaimana, Paman?”

“Ampun Kanjeng Sunan, beliau tidak bisa

memberikan daerahnya untuk dijadikan situ.”

“Oh, ya, sudahlah kalau memang begitu. Kita

cari saja tempat lain.”

Beberapa hari kemudian, seluruh rakyat ditugasi

untuk mencari tempat yang baik untuk dibuat situ.

Namun semua penduduk kerajaan mengatakan hal

yang sama bahwa tempat yang baik untuk situ ialah di

lembah gunung Kutu.

Akhirnya Sunan Rangga Lawe pun

memerintahkan kembali patihnya untuk membujuk

kakaknya agar memberikan daerahnya dijadikan situ.

Tetapi seperti sebelumnya, Maharaja Inten Dewata

tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau menyerahkan

daerahnya untuk dijadikan situ. Sunan Rangga Lawe

pun tidak dapat memaksa karena ia merasa hormat

pada sang kakak. Akhirnya, untuk sementara

pembangunan situ pun ditunda.

Beberapa hari kemudian ada seorang

mahamantri yang menghadap pada Sunan Rangga

Lawe.

“Ada apa, Mantri?”

“Ampun Kanjeng, sebelumnya saya meminta

maaf, apabila perkataan saya terlalu lancang.”

“Ya, ada apa, katakan saja!”

“Begini Kanjeng, yang menjadi raja di

Timbanganten sekarang adalah paduka Kanjeng.”

“Memang kenapa?”

“Artinya bahwa seorang raja itu harus berwibawa

dan mempunyai kekuasaan penuh atas wilayah

Timbanganten.”

“Maksud, Mantri?”

“Ampun, Kanjeng. Menurut hemat saya, Kanjeng

sebenarnya bisa memaksa pada Maharaja Inten

Dewata untuk segera menyerahkan lahannya untuk

dijadikan situ. Kalau paduka Kanjeng tidak sanggup,

artinya di Timbanganten terdapat dua raja.”

Mendengar perkataan mahamantri tersebut,

Sunan Rangga Lawe pun terpengaruh. Ia pun langsung

memerintahkan seluruh rakyatnya agar membawa

peralatan untuk membuat situ di lembah gunung Kutu.

Kontan saja seluruh rakyat Timbanganten berbondong-

bondong membangun situ. Bahkan pengerjaannya,

dipimpin langsung oleh Sunan Rangga Lawe.

Setibanya di lembah gunung Kutu, Kanjeng

Sunan segera memerintahkan untuk membuat

pesanggrahan, karena membuat situ akan

menghabiskan waktu berminggu-minggu.

“Mulailah kalian sekarang bekerja membangun

situ!”

Mulai hari itu, seluruh rakyat pun segera bekerja

membuat situ. Semua bersemangat karena dilihat

langsung oleh raja. Setelah beberapa minggu, situ pun

berhasil dibuat. Airnya sangat jernih memenuhi

kubangan situ, sebagian lagi dialirkan ke seluruh

pesawahan dan perkebunan di wilayah kerajaan

Timbanganten. Seluruh penduduk pun bahagia, karena

dapat bertani dan berladang kembali.

Hanya saja Maharaja Inten Dewata sangat

marah. Ia merasa dihianati oleh adiknya sendiri. Dalam

kemarahannya itulah, Maharaja Inten Dewata mengajak

Batara Rambut Putih untuk pergi menuju gunung kecil

yang terletak bersebelahan dengan gunung Kutu. Kelak

gunung kecil ini bernama gunung Putri.

“Aki, ambilkan aku jolang dan bawakanlah

sekepal tanah. Aku akan pergi ke puncak gunung

Kutu.”

“Untuk apa Nyai?”

“Ah, hanya untuk melihat saja situ buatan adikku

itu.”

Tak lama kemudian, Batara Rambut Putih pun

membawa jolang diisi air dan sekepal tanah. Lalu

pergilah Maharaja Inten Dewata dan Batara Rambut

Putih ke puncak gunung Guntur. Sesampainya ke

puncak gunung, lalu Maharaja Inten Dewata

menaburkan tanah dan menumpahkan air dari jolang.

Setelah itu, ia pun turun kembali dari puncak gunung.

Sesaat setelah sampai ke rumahnya, tiba-tiba

ada kejadian aneh. Langit yang cerah tiba-tiba menjadi

mendung. Sesaat kemudian terdengar suara petir

menyambar beberapa kali. Dari puncak gunung tiba-

tiba kelihatan api menyala. Setelah itu, gunung Kutu

pun menumpahkan lahar, batu panas, dan hujan abu ke

seluruh pelosok kerajaan.

Rumah penduduk banyak yang hancur.

Penduduk banyak yang meninggal. Mayat

bergelimpangan di mana-mana. Kono kejadian tersebut

berlangsung selama 40 hari 40 malam tanpa henti.

Pada peristiwa itu, banyak penduduk

Timbanganten yang mengungsi ke kerajaan Sukapura,

Sumedanglarang, dan Banjar Patroman. Adapun Sunan

Rangga Lawe tetap berdiam diri di Timbanganten. Ia

tetap bersikap sebagai figur raja yang

bertanggungjawab. Namun hatinya mulai tersadar,

bahwa terjadinya bencana demikian, karena ulahnya

yang tidak menghormati lagi kakaknya, Maharaja Inten

Dewata.

Sesaat setelah berpikir demikian, maka segera

ia pergi untuk menemui kakaknya. Sesampainya di

sana, ia segera melihat kakaknya tengah berdiri di atas

batu di bukit sebelah gunung Kutu. Dengan sigapnya,

langsung saja Sunan Rangga Lawe sungkem

(bersujud) pada kakaknya untuk meminta maaf.

“Kakanda, aku minta maaf atas perbuatanku

selama ini.”

“Aku maafkan engkau adikku.”

Setelah keluar perkataan itu, maka berhentilah

hujan batu panas, lahar, dan hujan abu dari gunung

Kutu. Suara petir pun mendadak berhenti.

“Kakak, alangkah baiknya apabila kita bersama

mengolah kerajaan.”

“Adikku, aku tidak akan pulang ke istana. Aku

sudah betah di sini. Apabila suatu saat nanti, terjadi lagi

kejadian seperti ini, sambat (panggil) saja namaku dan

Aki Batara Rambut Putih.”

Sesaat setelah itu, Maharaja Inten Dewata dan

Aki Batara Rambut Putih pun menghilang dari hadapan

Sunan Rangga Lawe. Semenjak itulah, gunung Kutu

namanya diubah menjadi gunung Guntur, karena sering

terdengar suara guntur (petir). Adakalanya masarakat

Timbanganten menyebutnya gunung Agung, untuk

mengenang keagungan Maharaja Inten Dewata.

Adapun bukit kecil tempat Sunan Rangga Lawe

bersujud pada Maharaja Inten Dewata, selanjutnya

dinamakan gunung Putri. Kemudian situ yang dibuat

oleh rakyat Timbanganten disebut Situ Taman

Timbanganten, sedangkan ibukota Korobokan

sekarang dikenal dengan nama Tegalurug.

Kini, wilayah Timbanganten masuk ke wilayah

kecamatan Tarogong Kabupaten Garut. ***

Advertisements

About ragadiyem

Sundanis lah....Silih asah,asih,asuh.nyebarkeun wawangi hayu........

Posted on January 25, 2012, in Sasakala Nusantara, warisan Budaya. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: